Minggu, 31 Maret 2013

Buku-buku yang Kupinjam dari Perpustakaan Saat Hiatus dan Kutuliskan Pembacaannya (Bagian 2)


Norwegian Wood – Haruki Murakami, terj. Jonjon Johana (KPG, Jakarta, 2009)

Sejak Kafka on the Shore, aku jadi berhati-hati dengan yang namanya Haruki Murakami. Kalau boleh dramatis kubilang novel itu telah mengubah hidupku, eh, sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai pelatuk yang membuatku memahami satu aspek pada diriku yang pada waktu itu belum tereksplorasi. Sudahlah, kalian enggak perlu tahu :P Tapi seseorang mengajakku menonton film Norwegian Wood. Apa boleh buat. Sejenak trauma kusingkirkan. Lagu Norwegian Wood ternyata enak, tapi filmnya enggak. Ada adegan begituan pula, walau enggak eksplisit banget. Tokohnya (Toru dan Naoko) kalau mengobrol suka sambil mondar-mandir enggak jelas. Ending­-nya enggak jelas. Begitulah.

Tapi memang begitulah novelnya.

Walau menurutku novelnya lebih baik dari filmnya. Aku maklum bahasa film enggak bisa mengekspresikan apa yang secara panjang lebar diungkapkan dalam novel.

Agaknya enggak salah kalau aku menganggap Norwegian Wood sebagai novel yang mengangkat kegalauan dewasa muda semacam Drop Out atau Welcome to the NHK, dengan enggak lebih ringan. Tokoh utama dalam Norwegian Wood adalah Toru Watanabe, mahasiswa drama yang biasa saja, suka membaca buku dan mendengarkan musik, hanya punya sedikit teman… introver. Tokoh lainnya adalah Naoko yang jiwanya terganggu, Midori yang menyegarkan, Reiko yang dewasa (memang sudah ibu-ibu), Nagasawa yang sempurna, serta Hatsumi dan Kizuki.

Aku membaca novel ini dengan lama-lama melodi dari lagu bertajuk sama mengalun dalam kepalaku.

Aku penasaran bagaimana komentar pembaca penyenang aksi (katakanlah novel thriller) apabila membaca novel semacam ini, karena apa yang dilakukan tokohnya hanya bertemu dengan si ini atau si itu, jalan-jalan, lalu mengobrol sampai puluhan halaman… Tapi pembaca sepertiku senang-senang saja. Kadang aku mesem karena apa yang diobrolkan sama dengan apa yang pernah kupikirkan. Misal: tentang kelakuan mahasiswa idealis sok revolusioner, yang ujung-ujungnya menuruti kebijakan kampus kemudian bekerja untuk kapitalis juga; atau tentang blue film yang adegannya begitu-begitu saja, membosankan sebetulnya, tapi memang itulah hal yang akan kita lakukan berulang kali X{ Mengingatkanku sama film Before Sunset, di mana apa yang diobrolkan oleh para tokoh malah lebih menarik ketimbang apa yang mereka lakukan.

Aku suka novel ini karena aku bisa mengidentikkan diri dengan beberapa hal di dalamnya, ada bagian-bagian yang bisa kukutip, dan kadang Toru yang penutur ini lucu juga sehingga aku terhibur, serta memiliki beberapa sikap terpuji yang bisa mendorongku untuk melakukan hal serupa. Tapi ada juga beberapa hal yang aku enggak cocok walaupun aku bisa memahami konteksnya, sehingga aku enggak bisa bilang “really like it”, dan kurang menggugah bagiku, jadi enggak “amazing”.

Sepiring Nasi Garam – Humam S. Chudori (Insan Madani, Yogyakarta, 2009)

Novel ini semula merupakan cerita bersambung di Republika, yang aku kira itu penyebab kenapa dalam novel ini informasi selalu diulang dari bab satu ke bab berikut—bahkan dalam bab yang sama! Penceritaan jadi terasa melingkar-lingkar seperti per, dan tahu-tahu beralih ke flashback yang ternyata cuman lamunan lantas terbuyar. Gayanya sendiri mudah dipahami, begitupun ceritanya. Aku membayangkannya seperti sinetron atau FTV religi hihihi.

Hamdan ingin menikahi Surti, dengan jaminan kalau calon istrinya itu dapat makan tiga kali sehari walau hanya dengan sepiring nasi garam. Berbagai tanggapan datang dari keluarga sampai tetangga. Pada akhirnya apa yang dikatakan Hamdan itu terwujud deh.

Aku suka dengan kesederhanaan Hamdan. Ia sengaja berhenti dari pekerjaan yang dapat memberikannya penghasilan lumayan, dan malah mencari nafkah secukupnya kebutuhan saja. Ia takut kelebihan penghasilan malah memberinya kesempatan untuk membeli kemaksiatan: pengendalian diri. Karakterisasi para tokohnya juga terasa riil.

Hubbu – Mashuri (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007)

Novel ini mengisahkan tentang Abdullah Sattar alias Jarot. Mbahnya pemimpin pesantren ternama di Desa Alas Abang, sedang ia sendiri dipercaya sebagai orang yang tepat untuk meneruskan lembaga tersebut. Sejak kecil Jarot dididik keras dengan ajaran Islam, tapi juga mengikuti sekolah umum negeri. Pengalaman dengan Jabir dan Wak Tomo membuatnya memiliki ketertarikan dengan mistisisme Jawa. Selepas SMA ia merantau ke Surabaya untuk meneruskan pendidikan di Sastra Indonesia UNAIR, di mana ia mencapai puncak kegalauan akan dua dunia yang saling tarik-menarik dalam dirinya yaitu Islam dan Jawa. Ia ingin memberontak dengan nilai-nilai yang ditanamkan pada dirinya sejak ia kecil. Titik kulminasinya adalah ketika ia meniduri tetangga kontrakannya, Agnes. Ia seolah mendapat kesempatan atau alasan yang sangat kuat untuk benar-benar lepas dari ikatan keluarganya.

Walau tokoh utamanya sama-sama pemuda berumur sekitar dua puluhan tahun, namun Hubbu terasa lebih serius ketimbang Norwegian Wood. Novel ini menimbulkan wacana yang mengingatkanku pada alasan kenapa aku suka AA Navis dan Jeffrey Lang.

Kun… Fayakun – Andi Bombang (Diva Press, Yogyakarta, 2008)

Aku enggak menduga novel ini akan cocok untukku. Niat semula adalah membaca novel religi apa saja, demi menambal keagamaanku. Tapi begitu dihadapkan pada sederet kemasan kok tanganku kaku ya? Hehehe. Sebetulnya dari segi kemasan (desain sampul) novel inipun seperti yang enggak meyakinkan. Label “spiritual thriller rasa lokal” terasa bombastis. Ditambah embel-embel “nasional best seller”, serius, “nasional”, kok enggak “national” sekalian? Tapi siapa sangka enam ratusan halaman dapat kuhabiskan dalam waktu relatif singkat, yang merupakan indikator bagiku bahwa suatu novel rame apa enggak. Gaya berceritanya sebetulnya biasa saja, dalam artian menimbulkan bayangan seperti sinetron atau FTV begitu. Tapi kok asyik dan, subhanallah, mengena.

Sebagian dari novel ini menceritakan aksi Hardi Kobra sebagai preman papan atas di Jakarta beserta kawanannya, lawan kelompok preman lain, membunuh orang Jepang, bertemu bos yakuza, sampai menjadi buronan polisi. Plotnya umum sih, ia yang tercelup dalam dunia hitam kemudian mendapatkan hidayah. Bisa karena deus ex machina atau apalah. Novel pun berubah menjadi buku pelajaran, yang dalam kasus ini sukses membuatku termenung.

Akupun mengenal ilmu hakikat. Hal yang paling mengena buatku adalah bahwa apa yang kita tahu bukanlah ilmu kalau kita belum me”rasa”kannya, melainkan sebatas pengertian saja. Demikian pun dalam mengenal Allah, tidak diperlukan alasan melainkan “rasa”.

Sebetulnya novel ini enggak memuaskanku secara keseluruhan. Unsur seperti latar dan karakter menuai protesku. Tapi walau berlubang-lubang, aku suka karena kesan realistisnya yang kuat, gayanya yang cair dan santai, berbau-bau metafisika, dan tentu saja asupan rohaninya. Aku enggak merasakan kesan “menghakimi” atau “menggurui” dalam novel ini, bahkan dari tokoh mursyidnya sekalipun. Beriman itu sebaiknya atas kesadaran sendiri, enggak diburu-buru. Akupun mengerti kenapa aku malas dengan novel religi, atau menyerempet religi, apalagi jika aku menemukan nada yang terkesan “menilai” bahkan  “menjelekkan” pihak tertentu secara gamblang.

Sebetulnya ada beberapa hal yang aku enggak jelas terkait esensi yang disampaikan dalam novel ini—mengusik untuk ditanyakan. Entah kenapa aku merasa kehilangan ketika mengetahui bahwa pengarang novel ini telah tiada…


Demikianlah. Ternyata aku enggak bisa hiatus, pikiranku lari ke buku terus. Membacanya, atau (berupaya) menghasilkannya.

1 komentar:

  1. sampeyan ini bagus juga, berusaha untuk membuka wawasan bagi yang belum membaca novelnya. menarik saya jadi ingin membaca buku yang telah sampeyan tuliskan komentarnya

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain