Sabtu, 23 Maret 2013

Wunderkammer


Luas kamar ini sekitar dua kali tiga meter. Kami semua jongkok di lantai. Aku bersandar di salah satu sisi dinding. Jendela bersanding dengan pintu, dilapisi sehelai kain perca, kuamat-amati sembari menggigiti ujung jari, “Lu jait sendiri, Sep?” iseng kusela obrolan Asep dan Awan. Mataku menuding gorden-gordenan itu. “Iya, jait sendiri, di tukang jait.” Suatu kali ia mampir ke tukang jahit. Mengamati kain sisa yang berserakan di lantai, timbul inisiatifnya untuk mengumpulkan. Lalu ia minta pada tukang jahitnya untuk menyatukan potongan-potongan tersebut jadi selembar kain. Dari kaos sampai batik, jeans sampai seragam PNS, gorden Asep yang mozaik itu serupa museum kain. “Kau tahu, bukan cuman gorden Asep itu yang punya cerita,” celetuk Awan, sebelum menyeruput kopi dari sudut rantang. Di tengah ruangan ini terhampar selembar koran. Di atasnya tadi Awan menyalakan kompor, memanaskan air keran dalam rantang, lalu membubuhkan serbuk hitam, yang kemudian kusadari ia lakukan di mana-mana, termasuk ketika mampir ke kosanku kapan itu, padahal aku punya heater. Deras hujan begini minum kopi memang nikmat sih, kalau di kafe. “Sofa itu,” Awan menuding benda merah hati yang kulitnya sudah terkelupas di sana-sini, panjangnya kira-kira dua meter, hampir pas dengan lebar sisi dinding di seberang jendela, “aku bantu menggotongnya ke mari.” Aku tertawa pelan sebagai tanggapan. “Dapet dari mana lu?” “Dari rumah saudaranya dia. Aku lihat sepertinya terlantar,” jawab Awan. “Kataku, daripada kau beli kasur baru, mending kau minta itu saja.” “Terus kasur lu yang lama?” tanyaku. “Dipake sama dia, kalo tidur di mari,” kepala Asep menuding pada Awan. Aku tidak heran. “Gua kira lu tajir, man, sampe ada kulkas segala,” kali ini aku merujuk pada benda hijau pupus yang berdiri tidak jauh dari sofa, “tapi kabelnya enggak nyolok, enggak jadi ngarep Coca Cola gua.” Keduanya menoleh pada kotak yang aku maksud. Awan tersenyum-senyum. “Kusuruh minta juga sama uwaknya itu. Anehlah orang itu. Barang bagus dianggur-anggurin aja, enggak dipakai.” “Itu pasti lemari lu, Sep,” cetusku lagi. Soalnya aku tidak lihat lemari betulan di kamar ini. Isinya pasti tumpukan baju dan buku. “Kalau mau cek, buka aja,” Asep memberi isyarat lagi dengan kepala. “Haduh haduh…” aku mengusap-usap rambut, apalagi setelah aku memerhatikan kalender yang tergantung di atas kulkas dengan saksama. Kalender tulis tangan di balik kertas kalender tahun lawas. “Lu suka ngumpulin kertas bekas dari fotokopian juga kan, dijilid, jadiin catatan kuliah.” Dalam bayanganku Awan merangkul Asep sembari menepuk-nepuk punggung, “Soulmate-ku ini.” Aku juga tidak menemukan cermin di kamar ini. Dengan nada berseloroh yang kukira sebenarnya serius, Awan bilang, Asep tinggal mencari kubangan air keruh kalau ingin mengaca. Asep juga tidak keluar duit untuk beli sisir, ia punya beberapa ruas tulang ikan yang diawetkan. Sekarang Awan menuangkan beras ke rantangnya yang lain, lalu keluar sebentar untuk membasahi butiran putih itu. Aku menunjuk akuarium yang berisi beberapa lele di sudut kamar. “Lu beolnya di situ ya, sekalian ngasih makan ikan lu…” Asep terbahak-bahak, apalagi aku. “…terus kalau darurat, ikannya lu makan…” Awan yang baru masuk kamar lagi tak mengerti. Kami terus mengobrol sampai nasinya matang. “Aduh, enggak ada piring euy,” kata Asep. “Langsung makan di sini aja (di rantang tempat ia memasak nasi, maksud Awan), rame-rame,” Awan cuek. “Terus lu makannya gimana,” tanyaku, “biasanya?” “Kemarin teh ada piring, cuman pecah, keinjek.” “Emang enggak ada yang lain?” aku heran. Asep tidak menjawab, malah Awan memandangiku lama sampai aku ngeh. “Kau pasti enggak mau makan di rantang.” Aku menggeleng, “Kalian aja yang makan.” “Enggak bisalah. Semua harus makan,” tegas Awan. “Masih kenyang,” alasanku. “Kalo pake gelas enggak apa-apa, Yat? Gelas mah ada,” imbuh Asep. Aku terperangah. Beberapa  menit kemudian kedua belah tanganku memeluk gelas berisi nasi yang mengepulkan asap. Kukira cuman mi yang gelas. “Makan, Yat,” Awan memerintah. Sehabis makan dengan lauk asin bumbu hijau, aku ditawari minuman dalam tutup botol sirup, sedang botolnya sendiri berdiri di kosen jendela, berisi air dan setangkai mawar. Airnya berasal dari termos, yang lubang di atasnya disumbat bohlam yang sudah putus. Tutup termos itu entah di mana, yang aku curiga pernah dijadikan piring juga oleh Asep. Hujan tinggal rintik-rintik. Sementara perhatianku teralih pada mawar, dengan tembang Novia Kolopaking mengalun dalam kepala, Awan mengeluarkan apel yang tadi diberikan Tiara Citra kepadaku namun kuberikan pada Awan. Mereka memotongnya dengan, “itu pisau?” tegurku. Benda itu bening seperti kaca, segitiga memanjang, meruncing. “Bukan…” tanggap Asep, “Itu pecahan piring yang kemarin.” *707* 


coba ngerjain latihan dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain